 |
Industri Cor Logam & Baja |
Kisah Teladan “Dibalik Label Made In China” – DesaTegal Rejo, Batur, Ceper, Klaten sejak dahulu dikenal dengan daerah sentra industri pengecoran logam. Di daerah ini banyak kita jumpai pabrik-pabrik pengecoran logam baik sekala besar, menengah, dan kecil. Dengan adanya usaha pengecoran logam ini maka di daerah ini banyak menyerap tenaga kerja. Dengan memanfaatkan logam maupun besi-besi tua yang sudah tidak terpakai, para pengusaha industri pengecoran logam di daerah ini mengolahnya kembali menjadi aneka produk loham lainnya. Besi-besi tua tersebut di bakar dengan alat hingga menjadi cair selanjutnya cairan besi tersebut di tuang ke beberapa cetakan sehingga terbentuk cetakan suatu produk yang diinginkan. Kisah para pengusaha pengecoran logam di Desa Tegal Rejo, Batur, Ceper, Klaten ini telah berlangsung sejak jaman dahulu. Usaha ini berlangsung turun temurun hingga saat ini. Sebelum krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998, pengusaha logam di daerah ini banyak yang berjaya dan sukses mengelola pengecoran logam.
Dengan adanya sentra industri pengecoran logam di Desa Tegal Rejo, Bartur, Ceper, Klaten ini maka sering kali daerah ini disebut kota “Baja” atau juga “Batur Jaya”. Karena usaha pengecoran logam di sini kebanyakan industri rumahan maka biasanya usahanya turun temurun. Tak heran terkadang setelah alih generasi banyak pula perkembangan usahanya tidak seperti sebelumnya, karena pengelolaan. Ancaman gulung tikar dan kebangkrutan pengusaha logam di sini terjadi setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar, namun juga masih ada yang tetap mampu bertahan hingga saat ini di tengah persaingan yang sulit.
Karena daerah di sini merupakan daerah sentra industri logam, maka produk logam dari daerah Batur, Ceper, Klaten sudah dikenal di dalam negeri dan bahkan luar negeri. Seringkali para pengusaha logam disini banyak mendapat oraderan. Produk yang dihasilakan oleh pengusaha logam disini banyak sekali, seperti alat-alat industri, pompa air, tiang lampu hias, dan masih banyak lagi.
 |
Mesin Penggiling Bakso |
Namun ada kisah unik dibalik produk logam yang dihasilkan dari daerah ini. Semenjak ancaman kebangrutan dan gulung tikar mengancam para pengusaha logam di daerah ini, maka pengusaha logam mensiasati dengan cara mengganti label “Made In Indonesia” menjadi “Made In China” ya dengan cara seperti itu maka produk-produk mereka masih laku di jual di pasaran. Pasalnya produk yang berlabel “Made In China” telah mengglobal dan dikenal banyak orang serta mudah diterima di pasaran.
Strategi mengganti label “Made In Indonesia” menjadi “Made In China” ditempuh guna mempertahankan usahanya dari ancaman kebangkrutan. Mesin giling kacang atau mesin giling padi misalnya, diproduksi di Batur, Ceper, Klaten dengan label “Made In China” selanjutnya di distribusikan ke daerah Bandung dan kota lainnya selanjutnya di ekspor ke luar negeri atau di pasarkan ke dalam negeri. Siapa yang tahu kalau mesin penggiling kacang tersebut aslinya buatan dalam negeri? Karena mesin tersebut berlabel “Made In China” maka banyak orang yang mengira produk tersebut memang buatan China. Ada lagi kisah lainnya seperti pompa air yang berlabel “Made In China” siapa sangaka kalau pompa air tersebut sebenarnya produk buatan pengusaha cor logan di Batur, Ceper, Klaten?
Itulah banyak kisah yang ditemui pengusaha cor logam disini untuk mempertahankan eksistensi usahanya. Namun ditengah banyaknya para pengusaha cor logam mengganti label “Made In Indonesia” menjadi “Made In China” masih terdapat salah seorang pengusaha yang masih tetap mempertahankan label asli “Made In Indonesia” seperti yang dikisahkan oleh seorang Kompasioner bernama Deliani Poetriayu Siregar dengan kisahnya yang berjudul “Dibalik Made In China” disana dia mengisahkan tentang kisah teladan seorang pengusaha logam yang kebelulan masih kerabatnya. Dibalik produk logam buatan Batur, Ceper, Klaten yang berlabel “Made In China” tersebut, masih terdapat pengusaha yan tetap mempertahankan label asli “Made In Indonesia”
“Biar kecil Tapi Kan Jujur Produk Indonesia” Ungkap pengusaha logam tersebut yang kami kutip.
Memang setelah perjanjian ACFTA di setujui pemerintah, maka produk dengan label “Made In China” bebas berkeliaran di pasaran. Hal tersebut merupakan godaan sekaligus tekanan terbesar buat pengusaha yang masih tetap mempertahankan label “Made In Indonesia”
Namun dengan tetap memakai label “Made In Indonesia” hal tersebut merupakan kisah teladan pengusaha yang patut kita contoh, kapan lagi produk asli dalam negeri bisa dikenal oleh masyarakatnya sendiri kalau para pengusaha memakai label luar negeri hanya untuk mengambil keuntungan semata. Demikian kisah teladan “Dibalik Produk Logam Berlabel Made In China” semoga produk dengan label “Made In Indonesia” mampu bersaing dengan produk China yang membanjiri pasaran dan produk luar negeri lainnya. Kualitas produk dalam negeri juga tidak kalah dengan produk luar negeri.
Punya kisah dan cerita motivasi, kisah teladan, cerita inspirasi, kisah sukses, dan kisah motivasi, dari kisah dunia pertambangan? kirimkan kisah dan cerita anda di website "Berbagi Kisah" di alamat http://berbagikisah.com